Prospek Saham ADMR 2026: Bisnis Aluminium dan Batu Bara Jadi Katalis
NasabahPintar.com - PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) diperkirakan mampu membukukan pertumbuhan kinerja yang signifikan hingga akhir 2026. Prospek tersebut ditopang oleh harga jual batu bara kokas yang relatif tinggi serta tambahan pendapatan dari bisnis pengolahan aluminium.
Analis KB Valbury Sekuritas Atikah Tri Adriyanti mempertahankan pandangan positif terhadap ADMR menjelang kuartal IV/2026. Perusahaan diperkirakan memperoleh dukungan dari harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batu bara kokas yang masih berada di level relatif tinggi.
“Dalam proyeksi kami, ASP FY26F berada di USD183/ton," ujarnya kepada Bisnis.com, dikutip Rabu (21/10/2026).
Meski demikian, kinerja penjualan batu bara ADMR berpotensi menghadapi tekanan pada kuartal III/2026. Kendala logistik yang menghambat pengangkutan batu bara diperkirakan memengaruhi volume penjualan perseroan pada periode tersebut.
KB Valbury menilai gangguan itu berpeluang mereda pada kuartal IV/2026 sehingga target penjualan tahunan masih dapat tercapai.
"Sehingga volume penjualan batu bara FY26F tetap dapat mencapai sekitar 6,2 juta ton," sebut Atikah.
Di luar bisnis batu bara, pengolahan aluminium menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ADMR pada paruh kedua 2026. KB Valbury memperkirakan segmen tersebut berpotensi menyumbang pendapatan sekitar US$900 juta.
Secara keseluruhan, pendapatan ADMR pada 2026 diproyeksikan mencapai US$2,048 miliar, atau melonjak 110,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Dari jumlah itu, bisnis batu bara diperkirakan menyumbang US$1,144 miliar, tumbuh 18,1% YoY, sementara pengolahan logam memberikan tambahan pendapatan sekitar US$900 juta.
Dari sisi laba, ADMR diprediksi membukukan laba bersih US$450,5 juta, meningkat 66,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Margin kotor diperkirakan berada di level 41,9%, sedangkan margin bersih diproyeksikan mencapai 22%.
Berdasarkan prospek tersebut, KB Valbury tetap merekomendasikan pembelian saham ADMR dengan target harga Rp2.100 per saham.
“Dengan mempertimbangkan prospek bisnis batu bara serta kontribusi bisnis pengolahan aluminium, kami mempertahankan rekomendasi Buy untuk ADMR dengan target harga Rp2.100 per saham,” tutur Atikah.
Prospek ADRO dan Sentimen Pembelian Saham Boy Thohir
Potensi pertumbuhan ADMR juga dapat menjadi katalis bagi induk usahanya, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO). Selain kinerja ADMR, kontribusi PT Saptaindra Sejati (SIS) turut menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi prospek ADRO.
Meski demikian, investor perlu memantau realisasi kinerja operasional serta sumbangan pendapatan dari setiap entitas untuk menilai dampaknya terhadap kondisi keuangan ADRO secara keseluruhan.
Sentimen terhadap saham kelompok usaha Adaro juga berpotensi dipengaruhi oleh aksi pengusaha Garibaldi Thohir atau Boy Thohir yang membeli 470.000 saham ADRO.
Atikah menilai transaksi tersebut dapat memberikan sentimen positif bagi saham ADRO maupun ADMR, terutama dalam jangka pendek. Aksi pembelian itu berpotensi dipersepsikan pasar sebagai bentuk kepercayaan pemegang saham utama terhadap prospek perusahaan.
Namun, dampaknya terhadap pergerakan harga saham tidak terlepas dari nilai transaksi, harga pembelian dibandingkan harga pasar, serta kondisi fundamental dan valuasi masing-masing emiten.
“Aksi tersebut lebih tepat dipandang sebagai katalis sentimen daripada konfirmasi perbaikan fundamental,” tamabahnya.
Menurut Atikah, penguatan harga saham secara berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan kinerja operasional, profitabilitas, dan prospek arus kas yang solid. Karena itu, pembelian saham oleh pemegang saham utama tidak otomatis menjamin kenaikan harga dalam jangka panjang.
"Untuk menjaga momentum kenaikan saham secara berkelanjutan, kinerja operasional, profitabilitas, dan prospek arus kas tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan investor," pungkasnya.
