Mayoritas Bank Digital RI Cetak Profit, OJK Soroti Pentingnya Efisiensi Jangka Panjang
Nasabahpintar.com - Kinerja profitabilitas perbankan digital di Indonesia terus menunjukkan tren penguatan yang signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pencapaian ini sebagai prestasi yang patut diapresiasi, terutama jika dibandingkan dengan industri bank digital di negara-negara tetangga yang masih tertahan pada fase pencapaian titik impas (break-even point).
Sejumlah bank digital di Tanah Air sukses membukukan peningkatan laba bersih yang signifikan secara tahunan (year-on-year). Krom Bank mencatat lonjakan laba hingga 53,91% menjadi Rp133,48 miliar, disusul BCA Digital yang tumbuh 53,81% dengan raihan Rp152,10 miliar, serta Bank Jago yang mencetak laba Rp228,61 miliar atau naik 51,09%. Pertumbuhan positif juga dialami oleh Amar Bank dengan raihan Rp171,06 miliar (naik 29,07%) dan Bank Neo Commerce yang membukukan laba sebesar Rp352,04 miliar (naik 1,26%).
Kendati demikian, dinamika performa sektor ini masih diwarnai penyesuaian pada beberapa institusi. Laba bersih Allo Bank terkoreksi tipis 2,29% menjadi Rp261,85 miliar, sementara Bank Raya mencatat penurunan laba 62,32% menjadi Rp14,52 miliar. Adapun Hibank membukukan kerugian sebesar Rp83,92 miliar, berbalik dari capaian laba Rp67,32 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Merespons perkembangan tersebut, regulator menekankan bahwa perolehan profitabilitas jangka pendek maupun ekspansi jumlah pengguna bukanlah satu-satunya parameter utama dalam menilai keberhasilan perbankan digital.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan sambutan secara daring dalam acara BIG Financial Insights di Jakarta:
“Yang lebih penting adalah kualitas pertumbuhan, yaitu struktur pendanaan yang sehat, kemudian kualitas aset yang terjaga, efisiensi yang meningkat, permodalan yang kuat, serta profitabilitas yang berkelanjutan,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam acara BIG Financial Insights di Jakarta.
Dian juga menegaskan kembali komitmen OJK terkait tolok ukur keberhasilan sektor ini ke depannya:
“Namun dalam fase berikutnya, ukuran keberhasilan tentu tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna atau laba dalam jangka pendek,” ujar dia.
Di samping itu, ketahanan infrastruktur serta kesiapan sistem siber turut menjadi perhatian mendasar agar bank digital mampu menghadapi ancaman keamanan siber yang makin meluas:
“Oleh karena itu, bank digital perlu memiliki sistem pengamanan TI yang memadai sehingga mampu tetap resilien di tengah ancaman siber yang ada saat ini,” kata Dian.
Keberhasilan perbankan digital di Indonesia dalam mencetak profitabilitas tergolong menonjol jika dibandingkan dengan beberapa wilayah lain di Asia. Sebagai perbandingan, dari lima bank digital yang beroperasi di Singapura selama hampir lima tahun, baru satu yang mencatatkan laba. Kondisi serupa terjadi di Hong Kong dan kawasan Arab, di mana baru tiga dari delapan bank digital yang berhasil mencapai titik impas setelah beroperasi lebih dari lima tahun.
