Hannah Asa Indonesia Bekali Petani Milenial Sigi dengan Literasi Keuangan
NasabahPintar.com - Komunitas Hannah Asa Indonesia memberikan pelatihan literasi keuangan kepada petani milenial di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Tujuannya agar para petani mampu mengelola usaha tani secara produktif dan berkelanjutan.
Pendiri Hannah Asa Indonesia Mardiyah menyebut kemampuan mengelola keuangan sebagai bekal penting bagi petani dalam mengambil keputusan usaha.
“Kemampuan mengelola keuangan merupakan bagian penting dari penguatan kapasitas petani, terutama untuk membantu mereka mengambil keputusan usaha berdasarkan kondisi keuangan yang terukur,” kata Mardiyah di Sigi, Kamis.
Petani Sebagai Pengelola Usaha
Menurut Mardiyah, petani tidak hanya berperan sebagai pelaku produksi, tetapi juga pengelola usaha. Mereka perlu merencanakan kebutuhan produksi, mengendalikan biaya, mengenali pasar, mengelola pendapatan, dan menyiapkan modal untuk siklus produksi berikutnya. Karena itu, petani dinilai perlu terampil mencatat transaksi, menghitung biaya produksi, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, serta merencanakan kebutuhan modal.
Materi Pelatihan
Materi bertajuk “Petani Milenial Cerdas Finansial, Usaha Tumbuh Berkelanjutan” mencakup pengelolaan biaya produksi, pencatatan transaksi, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta perencanaan modal kerja. Petani juga diajak memahami perbedaan biaya tetap dan biaya variabel sebagai dasar menghitung harga pokok produksi (HPP), menentukan harga jual, dan memperkirakan keuntungan.
Mardiyah menambahkan, pengelolaan modal kerja perlu diperhatikan agar petani bisa membeli sarana produksi, membayar tenaga kerja, dan menutup biaya operasional sebelum hasil panen terjual. Pendekatan ini menempatkan literasi keuangan sebagai keterampilan praktis untuk mengevaluasi kondisi usaha dan menyusun rencana pengembangan secara bertahap.
Dukungan Pemerintah Daerah
Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah Moh. Saleh menilai program Berani Menjadi Petani Milenial perlu ditopang kesiapan petani, dukungan produksi, akses pasar, dan penguatan kelembagaan.
“Selain keterampilan teknis dalam produksi, petani perlu memahami manajemen usaha, pengembangan kelembagaan, pemasaran, dan pengelolaan keuangan agar kegiatan pertanian dapat berkembang menjadi usaha produktif yang memberikan nilai tambah,” ujarnya.
Menurut Saleh, keterpaduan berbagai aspek tersebut diperlukan agar usaha pertanian dapat berkembang dan berkelanjutan secara bertahap.
