Sumsel Tawarkan 4 Proyek Hilirisasi Senilai US$76 Juta, ROI Capai 42%
NasabahPintar.com - Sumatera Selatan (Sumsel) menawarkan empat proyek hilirisasi komoditas unggulan kepada investor dengan total kebutuhan investasi mencapai US$76 juta. Keempat proyek tersebut mencakup pengolahan kelapa, ikan patin, peternakan dan pengolahan sapi potong, serta budidaya udang vaname.
Proyek-proyek yang tersebar di Kabupaten Banyuasin, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ilir (OKI) itu memiliki estimasi tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI) sebesar 17,7% hingga 42%. Adapun periode pengembalian modal atau break-even point (BEP) diperkirakan berkisar 3–8 tahun.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel Bambang Pramono mengatakan, hilirisasi menjadi salah satu agenda penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan sekaligus mendukung ketahanan pangan dan energi.
"Nilai tambah menjadi penting kalau kita ingin mencapai pertumbuhan yang ditargetkan. Pada 2045 target Sumsel sebesar 8%, maka perlu upaya hilirisasi," ujarnya dalam Sriwijaya Economic Forum 2026 di Hotel Aryaduta Palembang, Selasa (3/11/2026).
Menurut Bambang, forum tersebut menjadi sarana mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan calon investor sekaligus memperkenalkan peluang investasi yang telah disiapkan di Sumsel.
"Kita melihat minat investasi di Sumsel juga terus meningkat. Jumlah proyek investasi tercatat meningkat dari sekitar 2.900 proyek pada 2020 menjadi 29.800 proyek pada 2026," kata dia.
Ia menyebutkan, terdapat tiga faktor yang perlu diperkuat untuk menopang peningkatan investasi daerah, yakni aksesibilitas dan konektivitas, ketersediaan komoditas unggulan, serta dukungan pemerintah daerah.
Empat Proyek Hilirisasi Sumsel yang Ditawarkan ke Investor
Berdasarkan hasil kurasi, empat proyek hilirisasi yang ditawarkan memiliki kebutuhan investasi gabungan sekitar US$76 juta. Berikut rincian peluang investasinya:
1. Pengolahan kelapa di Banyuasin
Proyek pengolahan kelapa di Kabupaten Banyuasin membutuhkan investasi sebesar US$7,16 juta. Peluang pengembangan industri ini didukung produksi kelapa daerah tersebut yang mencapai 47.456 ton sepanjang 2025.
Namun, sebagian besar hasil produksi selama ini masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
"Tetapi selama ini, sebagian besar hasilnya masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah," tutur Bambang.
Industri tersebut dirancang menghasilkan produk turunan berupa virgin coconut oil (VCO) dan briket arang. Dengan kebutuhan lahan sekitar 15 hektare, proyek ini ditargetkan mampu memproduksi 1,8 juta liter VCO per tahun.
2. Pengolahan ikan patin terintegrasi di Ogan Ilir
Proyek kedua berupa pengolahan ikan patin terintegrasi di Kabupaten Ogan Ilir dengan kebutuhan investasi US$7,8 juta.
Ogan Ilir merupakan salah satu sentra produksi ikan patin di Sumsel. Produksinya mencapai 4.865 ton pada 2024 atau meningkat 51% dibandingkan 2020.
Pengembangan proyek dirancang dalam satu kawasan yang mengintegrasikan pembenihan, produksi pakan, hingga pengolahan filet beku. Produk tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar makanan beku atau frozen food yang diperkirakan tumbuh 7% per tahun.
3. Peternakan dan pengolahan sapi potong di OKI
Proyek ketiga merupakan pengembangan peternakan dan pengolahan sapi potong di Kabupaten OKI dengan kebutuhan investasi US$27,84 juta.
Model bisnisnya dirancang melalui ekosistem terintegrasi, mulai dari pembibitan, penggemukan, rumah potong hewan, hingga pabrik pakan.
"Ketersediaan bungkil sawit sekitar 29.900 ton per tahun menjadi salah satu potensi pendukung untuk menekan biaya pakan dalam pengembangan usaha tersebut. Periode pengembalian modal diperkirakan sekitar lima tahun," jelas Bambang.
4. Budidaya udang vaname di OKI
Proyek keempat adalah budidaya udang vaname di Kabupaten OKI dengan kebutuhan investasi US$33,2 juta. Proyek ini memiliki estimasi BEP sekitar tiga tahun.
Wilayah tersebut memiliki potensi pengembangan tambak seluas 6.061 hektare dengan produksi sekitar 30 ton per hari. Potensi perluasan kawasan budidaya bahkan diperkirakan mencapai 20.000 hektare.
Besarnya potensi lahan tersebut menjadi salah satu peluang untuk mengembangkan usaha budidaya udang vaname di OKI.
Realisasi Investasi Sumsel Capai Rp46,54 Triliun
Di luar empat proyek hilirisasi tersebut, Bambang menyebut Sumsel juga memiliki peluang investasi di sektor pariwisata kesehatan atau health tourism. Konsep ini diarahkan untuk mengintegrasikan layanan kesehatan dengan potensi wisata daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumsel Lusapta Yudha mengatakan, penguatan investasi daerah tidak hanya berorientasi pada besaran modal yang masuk, tetapi juga pada kemampuan investasi menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan.
"Investasi bukan hanya berbicara besaran modal masuk ke Sumsel, tetapi bagaimana investasi bisa menciptakan nilai tambah, memperkuat hilirisasi komoditas unggulan, membuka lapangan pekerjaan, dan pada akhirnya menyejahterakan masyarakat," ujarnya.
Lusapta menyampaikan, realisasi investasi Sumsel hingga kuartal III/2026 mencapai Rp46,54 triliun atau 104,28% dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2026 sebesar Rp44,64 triliun.
Pencapaian tersebut ditopang sejumlah langkah penguatan investasi sepanjang 2026. Upaya itu meliputi pembentukan satuan tugas atau task force investasi, peningkatan kualitas penyiapan proyek, perluasan promosi, hingga penjajakan kerja sama dengan sejumlah negara.
Lusapta berharap proyek-proyek yang telah disiapkan melalui Sriwijaya Economic Forum 2026 dapat ditindaklanjuti menjadi kemitraan konkret dengan calon investor.
