Selasa, 03 Nov 2026 NewsBankBisnisKeuanganInvestasi
Breaking
Beranda › Bank
Bank

Bank Dunia Proyeksikan Harga Komoditas Global Naik 23 Persen pada 2026

✍️ Laila Amalia 🕒 03 Nov 2026 👁️ 0x dibaca
Ilustrasi ladang gandum.
Ilustrasi ladang gandum. Foto: dok. World Economic Forum

NasabahPintar.com - Bank Dunia (World Bank) memperkirakan harga komoditas global meningkat rata-rata 23 persen sepanjang 2026. Kenaikan tersebut dipicu berbagai tekanan ekonomi, mulai dari lonjakan harga energi, gangguan pengiriman biji-bijian, hingga ancaman El Niño terhadap produksi pertanian.

Dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi Oktober 2026, Bank Dunia memperingatkan bahwa kombinasi kenaikan harga energi, terganggunya rantai pasok pangan, dan memburuknya kondisi cuaca dapat memicu krisis pangan. Dampak lanjutannya berpotensi mendorong lebih banyak masyarakat jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem.

Untuk sektor energi, harga komoditas diproyeksikan melonjak 32 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada 2026. Kenaikan ini membalikkan tren penurunan selama tiga tahun sebelumnya. Namun, harga energi diperkirakan kembali turun 12 persen pada 2027.

Secara khusus, harga minyak mentah Brent diperkirakan rata-rata mencapai US$91 per barel pada 2026, meningkat dari US$69 per barel pada 2025. Pada 2027, harga minyak tersebut diproyeksikan turun menjadi US$79 per barel.

Sementara itu, harga komoditas pangan diperkirakan naik sekitar 10 persen pada 2026 dan kembali meningkat 7 persen pada 2027. Tekanan harga dipengaruhi konflik yang menghambat pengiriman biji-bijian, ancaman El Niño terhadap hasil panen, serta kenaikan biaya produksi pertanian akibat mahalnya bahan bakar dan pupuk.

Pada 2027, harga biji-bijian diproyeksikan meningkat 9 persen. Hambatan produksi beras di Asia dan gandum secara global menjadi salah satu faktor pendorong, terutama akibat memburuknya kondisi pertanian yang berkaitan dengan El Niño.

Adapun harga minyak nabati dan tepung diperkirakan naik 8 persen. Kenaikan terutama didorong tingginya permintaan produk turunan kedelai untuk pakan ternak dan bahan bakar nabati, sementara produksi minyak sawit berpotensi tertekan oleh El Niño.

Harga Pupuk Naik, Komoditas Minuman Diproyeksikan Turun

Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, harga minuman justru diperkirakan turun 24 persen pada 2026. Penurunan tersebut sejalan dengan pemulihan produksi kakao dan kopi setelah sebelumnya terdampak penyakit tanaman serta kondisi cuaca buruk.

Harga pupuk diproyeksikan meningkat 14 persen pada 2026, sebelum kembali ke tingkat harga 2025 pada 2027. Khusus urea, harganya diperkirakan turun 16 persen pada 2027 dan 14 persen pada 2028. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi pulihnya ekspor dari Timur Tengah serta meredanya harga gas alam.

China diperkirakan menjadi pemasok utama urea pada 2026.

Bank Dunia menegaskan proyeksi tersebut tidak memasukkan skenario eskalasi konflik besar yang dapat mengganggu pasokan komoditas global. Apabila ketegangan di Timur Tengah meningkat dan kerusakan infrastruktur minyak Rusia berlanjut, harga energi berpotensi melampaui perkiraan dasar.

Risiko krisis pangan juga dapat meningkat apabila harga energi lebih tinggi dari proyeksi, pengiriman biji-bijian melalui Laut Hitam semakin terhambat, dan El Niño berlangsung lebih kuat. Kombinasi tekanan tersebut dapat memperburuk ketahanan pangan dan meningkatkan jumlah penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, sebagaimana pernah terjadi pada awal 2010-an.

Pasokan Minyak Global Diproyeksikan Turun 5,5 Juta Barel per Hari

Bank Dunia memperkirakan pasokan minyak global pada 2026 menyusut 5,5 juta barel per hari atau sekitar 5,2 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dalam lebih dari empat dekade terakhir di luar kontraksi akibat resesi global pada 2020 saat pandemi Covid-19.

Dalam skenario konflik yang semakin meningkat, harga minyak Brent berpotensi mencapai rata-rata US$105 per barel pada 2027. Pada saat yang sama, harga komoditas pangan dapat berada 12 persen di atas proyeksi dasar.

Dari sisi permintaan, konsumsi minyak global diperkirakan turun 2,6 juta barel per hari atau 2,5 persen pada 2026. Penurunan ini disebut sebagai yang terbesar ketiga dalam catatan historis, setelah periode pandemi 2020 dan gejolak pasar minyak pada 1980.

Penyusutan konsumsi minyak dipengaruhi beberapa faktor. Gangguan produksi petrokimia akibat kekurangan bahan baku dan pembatasan ekspor menekan kebutuhan minyak. Sejumlah proses industri juga mulai mengganti bahan bakar minyak ketika harganya meningkat. Selain itu, kebutuhan bahan bakar transportasi berkurang seiring meluasnya penggunaan kendaraan listrik, terutama di China.

Bank Dunia menjelaskan, harga yang tinggi di tengah keterbatasan pasokan mendorong pembatasan permintaan. Peralihan penggunaan energi melalui elektrifikasi turut mengurangi konsumsi minyak, khususnya di China.

Meski permintaan melemah, produksi minyak diperkirakan masih berada di bawah konsumsi. Kondisi tersebut membuat persediaan terus menyusut dan pasar semakin rentan terhadap gangguan pasokan baru.

Harga Brent bahkan diproyeksikan mendekati US$100 per barel pada kuartal IV/2026. Defisit pasar minyak global, keterbatasan kapal tanker, serta serangan berkelanjutan terhadap kapal menjadi faktor yang menekan pasokan. Secara keseluruhan, harga Brent diperkirakan rata-rata US$91 per barel sepanjang 2026.

Jika tidak terjadi kerusakan permanen tambahan pada infrastruktur minyak, produksi global diproyeksikan mencapai sekitar 106 juta barel per hari pada 2027. Peningkatan pasokan minyak mentah tersebut diharapkan mengurangi ketatnya pasar dan mendorong harga Brent turun ke rata-rata US$79 per barel.

Harga Logam dan Mineral Diperkirakan Cetak Rekor pada 2026

Tekanan kenaikan harga juga diperkirakan terjadi pada kelompok logam dan mineral. Indeks harga komoditas ini diproyeksikan mencatat rekor tertinggi baru pada 2026, dengan kenaikan 25 persen secara tahunan.

Harga logam dasar, termasuk aluminium, tembaga, dan timah, diperkirakan meningkat tajam. Kenaikan dipengaruhi kendala pasokan serta meningkatnya investasi untuk mendukung transisi energi dan pengembangan teknologi canggih.

Pada 2027, indeks harga logam dan mineral diperkirakan turun tipis 3 persen dibandingkan 2025. Perbaikan kondisi pasokan sejumlah logam dasar, meredanya gangguan produksi dan ekspor, serta mulai beroperasinya kapasitas produksi baru menjadi faktor yang mendukung penurunan tersebut.

Meski demikian, pertumbuhan pasokan tembaga hasil pertambangan diperkirakan tetap terbatas. Salah satu penyebabnya adalah penurunan kadar bijih di Chile, yang merupakan negara produsen tembaga terbesar di dunia.

Untuk kelompok logam mulia, Bank Dunia memperkirakan harga rata-rata melonjak 40 persen pada 2026. Tingginya permintaan terhadap aset yang dapat digunakan untuk diversifikasi investasi di tengah tekanan geopolitik menjadi salah satu pendorong kenaikan.

Harga emas dan perak diperkirakan sama-sama mencatat rekor tahunan. Namun, pada 2027, harga logam mulia diproyeksikan sedikit melemah.

Kenaikan suku bunga di negara-negara maju diperkirakan mengurangi minat investasi pada aset yang tidak memberikan imbal hasil rutin, seperti emas. Selain itu, harga yang tinggi dapat mendorong inovasi untuk mengurangi penggunaan logam mulia dalam kegiatan industri.

Kendati diperkirakan melemah, harga logam mulia diproyeksikan tetap bertahan pada tingkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan rata-rata periode 2015–2019.

LA
Laila AmaliaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update