Google Investasi Rp270 Triliun di Malaysia untuk Bangun Pusat Data
NasabahPintar.com - Google berencana mengucurkan investasi sebesar 15 miliar dollar AS atau sekitar Rp270 triliun di Malaysia selama periode 2027-2028. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun pusat data (data center) dan infrastruktur teknologi lainnya, sekaligus memperkuat posisi Malaysia sebagai salah satu tujuan investasi industri digital di Asia Tenggara.
Komitmen terbaru perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) ini menambah investasi yang sebelumnya diumumkan pada 2024 sebesar 2 miliar dollar AS. Ekspansi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan infrastruktur komputasi untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan layanan digital.
Google menilai Malaysia memiliki ekosistem digital yang mendukung pengembangan bisnis teknologi.
"Malaysia merupakan salah satu ekonomi digital paling dinamis di Asia Tenggara, didorong oleh penetrasi internet sebesar 99% dan adopsi AI yang pesat di kalangan lembaga pemerintah, bisnis, dan konsumen," kata Google dalam pernyataannya, dikutip dari Yahoo News, (Kamis 5/11/2026).
Dalam rencana ekspansi tersebut, Google juga akan membangun kompleks pusat data di kawasan industri Malaysia dengan menerapkan pendekatan efisiensi energi. Perusahaan turut berkomitmen menjaga ketahanan sumber daya air setempat serta meningkatkan pasokan energi bersih ke jaringan listrik nasional dengan tambahan kapasitas lebih dari satu gigawatt.
Operasional fasilitas tersebut diperkirakan memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.
"Setelah beroperasi, fasilitas tersebut diproyeksikan menopang lebih dari 9.000 lapangan kerja lokal setiap tahun, dengan rata-rata upah 45% di atas median nasional," jelasnya.
Malaysia kuasai lebih dari separuh proyek data center Asia Tenggara
Investasi Google berlangsung ketika Malaysia tengah berkembang sebagai salah satu lokasi utama pembangunan pusat data di kawasan Asia Tenggara. Infrastruktur ini semakin dibutuhkan seiring meningkatnya penggunaan teknologi AI, termasuk chatbot dan generator gambar yang memerlukan kapasitas komputasi besar untuk pelatihan maupun operasionalnya.
Berdasarkan data perusahaan intelijen pasar DC Byte, Malaysia memiliki porsi lebih dari separuh kapasitas pusat data yang sedang dalam tahap pembangunan di Asia Tenggara. Perhitungan tersebut mencakup proyek-proyek di Indonesia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Besarnya aktivitas pembangunan infrastruktur digital turut memberikan kontribusi terhadap prospek perekonomian Malaysia. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara tersebut mencapai 5,2 persen pada 2026. Aktivitas pembangunan pusat data menjadi salah satu faktor yang mendukung proyeksi tersebut.
Kebutuhan listrik dan air menjadi tantangan ekspansi pusat data
Di balik peluang ekonomi yang ditawarkan, pertumbuhan industri pusat data juga memunculkan persoalan terkait keberlanjutan lingkungan. Fasilitas komputasi AI membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan server dan sistem pendukungnya.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap jaringan listrik, terutama ketika pasokan energi masih bergantung pada bahan bakar fosil. Selain listrik, pusat data juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk menjaga suhu peralatan komputasi agar tetap stabil selama beroperasi.
Dampak lingkungan pembangunan fasilitas digital bahkan mulai memicu penolakan di sejumlah negara. Sejumlah kekhawatiran yang muncul meliputi peningkatan kebisingan, polusi, perubahan tampilan kawasan, hingga perbandingan antara besarnya investasi dengan jumlah lapangan kerja yang tercipta.
Wakil Perdana Menteri Malaysia pada Juli lalu menyampaikan bahwa konsumsi energi pusat data diperkirakan mencapai sepertiga dari total kebutuhan energi nasional pada 2035.
Menghadapi potensi peningkatan kebutuhan tersebut, pemerintah Malaysia menegaskan akan menerapkan persyaratan terkait ketersediaan sumber daya sebelum memberikan persetujuan pembangunan pusat data.
Setiap proyek baru hanya akan memperoleh izin setelah pemerintah memastikan pasokan listrik dan air yang dibutuhkan tersedia dalam jumlah memadai. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya mengimbangi pertumbuhan industri teknologi dengan kapasitas sumber daya dan kebutuhan lingkungan.
