Sabtu, 24 Okt 2026 NewsBankBisnisKeuanganInvestasi
Breaking
Beranda › Keuangan
Keuangan

Ekonom Terbelah soal BI-Rate Oktober 2026, Bertahan 5,75 Persen atau Naik ke 6 Persen?

✍️ Laila Amalia 🕒 21 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym.

NasabahPintar.com - Proyeksi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) pada Oktober 2026 terbelah di kalangan ekonom. Sebagian memperkirakan BI mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen, sementara ekonom lainnya menilai kenaikan 25 basis poin menjadi 6 persen diperlukan untuk merespons tekanan rupiah dan risiko arus keluar modal asing.

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Oktober dijadwalkan diumumkan pada Rabu siang. Keputusan tersebut dinantikan di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta kekhawatiran pasar setelah munculnya usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky memperkirakan BI masih akan mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Namun, ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah dan risiko arus keluar modal dapat memperkuat alasan kenaikan suku bunga apabila kondisi nilai tukar semakin memburuk.

Menurut Riefky, ketidakpastian eksternal yang berlanjut dan tekanan di pasar domestik membuat ruang gerak kebijakan BI semakin terbatas. Tekanan inflasi baru di Amerika Serikat berpotensi membuat suku bunga di negara tersebut bertahan tinggi lebih lama, sehingga menambah tekanan terhadap rupiah dan arus modal.

Di dalam negeri, kenaikan harga pangan dan bahan bakar juga membuat inflasi semakin mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia. Kondisi ini menambah tantangan bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertimbangkan kebutuhan pertumbuhan ekonomi.

Riefky mencatat arus portofolio asing ke pasar keuangan Indonesia masih bergerak beragam di tengah ketidakpastian kebijakan bank sentral AS atau The Fed. Pada periode pertengahan September hingga pertengahan Oktober 2026, Indonesia mencatat arus keluar portofolio asing bersih sekitar 0,05 miliar dolar AS.

Arus masuk dana asing sebesar 0,69 miliar dolar AS ke pasar obligasi pemerintah tidak mampu mengimbangi arus keluar sebesar 0,73 miliar dolar AS dari pasar saham.

Tekanan tersebut turut membebani rupiah. Mata uang Indonesia melemah 1,22 persen secara bulanan (month to month/mtm), dari Rp17.680 per dolar AS pada 15 September 2026 menjadi Rp17.895 per dolar AS pada 14 Oktober 2026. Sejak awal tahun, rupiah tercatat melemah 8,30 persen secara tahunan berjalan (year to date/ytd).

Berbeda dengan proyeksi LPEM FEB UI, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi ketidakpastian eksternal dan risiko arus keluar modal akibat proposal reklasifikasi MSCI.

"Perkembangan ini menjadi game changer meskipun keputusan final belum diambil, investor dapat mengurangi eksposur lebih awal sehingga tekanan terhadap rupiah perlu diantisipasi," kata Faiz.

Ia menilai daya tarik aset dalam denominasi rupiah perlu diperkuat di tengah tingginya imbal hasil global dan kebutuhan pembiayaan defisit transaksi berjalan. Karena itu, tim ekonom Bank Danamon melihat alasan yang semakin kuat bagi BI untuk mengambil langkah antisipatif atau preemptive.

Pertimbangan tersebut, menurut Faiz, tidak hanya berkaitan dengan level nilai tukar rupiah, tetapi juga kecepatan pelemahan mata uang, keberlanjutan arus keluar modal, serta potensi dampaknya terhadap inflasi dan kepercayaan pasar.

"Hingga akhir 2026, kami memperkirakan BI-Rate berpotensi mencapai 6,25 persen, terutama jika tekanan eksternal berlanjut," kata dia.

Faiz menambahkan, kenaikan suku bunga perlu disertai intervensi di pasar valuta asing, penguatan insentif lindung nilai, serta penyediaan instrumen moneter dengan imbal hasil yang kompetitif. Sementara itu, kebijakan makroprudensial dinilai tetap perlu mendukung pembiayaan sektor produktif agar upaya stabilisasi rupiah tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede juga memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Meski demikian, ia menilai kemungkinan BI mempertahankan suku bunga pada level 5,75 persen masih cukup terbuka.

"Secara probabilistik, kami melihat peluang kenaikan suku bunga sekitar 60 persen, sedangkan peluang mempertahankan suku bunga sekitar 40 persen. Penilaian ini sejalan dengan meningkatnya ekspektasi pengetatan moneter di pasar, meskipun konsensus ekonom masih terbelah," kata Josua.

Menurut tim ekonom PermataBank, perubahan ekspektasi pasar terutama dipicu tekanan terhadap rupiah setelah MSCI mengumumkan kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi pasar tersendiri.

Dampaknya terlihat pada koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan peningkatan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun. Pada 20 Oktober, imbal hasil SBN 10 tahun berada di sekitar 7,44 persen, naik sekitar 137 basis poin dibandingkan akhir 2025. Sementara itu, rupiah bergerak di sekitar Rp17.987 per dolar AS, meskipun mulai menunjukkan stabilisasi setelah tekanan sebelumnya.

Josua menilai kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin akan menjadi respons yang lebih proporsional dibandingkan kenaikan agresif sebesar 50 basis poin. Langkah tersebut dinilai dapat memperkuat kredibilitas kebijakan moneter dan daya tarik aset rupiah tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Namun, ia mengingatkan bahwa BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei hingga Juni 2026. Dampak dari pengetatan sebelumnya, menurutnya, tetap perlu diperhitungkan sebelum bank sentral memutuskan langkah tambahan.

Perbedaan proyeksi para ekonom tersebut menunjukkan bahwa keputusan BI akan bergantung pada penilaian terhadap keseimbangan risiko stabilitas rupiah, arus modal, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

LA
Laila AmaliaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update