Selasa, 03 Nov 2026 NewsBankBisnisKeuanganInvestasi
Breaking
Beranda › News
News

Masjid Sejuta Pemuda Sukabumi Buka 24 Jam, Sediakan Kopi dan Makanan Gratis

✍️ Laila Amalia 🕒 31 Oct 2026 👁️ 8x dibaca
Nampak depan area halaman Masjid Sejuta Pemuda Kota Sukabumi. Kamis (29/10/2026)
Nampak depan area halaman Masjid Sejuta Pemuda Kota Sukabumi. Kamis (29/10/2026) Foto: KOMPAS.com RIKI ACHMAD SAEPULLOH

NasabahPintar.com - Masjid Sejuta Pemuda di Jalan Lamping, Kelurahan Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Jawa Barat, menawarkan konsep berbeda dari masjid pada umumnya. Masjid yang dikenal dengan nama Masjid At-Tin ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pemberdayaan anak muda, pusat aktivitas ekonomi, hingga destinasi wisata ramah muslim.

Masjid tersebut terbuka selama 24 jam dan menyediakan berbagai fasilitas gratis bagi jemaah maupun musafir. Pengunjung dapat menikmati minuman hangat dan makanan tanpa dipungut biaya. Fasilitas lainnya meliputi Coffee & Healthy Bar, ruang kerja bersama (co-working space), akses internet, serta tempat beristirahat.

Berada tidak jauh dari kaki Gunung Gede Pangrango, masjid ini memadukan kegiatan ibadah dengan aktivitas sosial dan ekonomi. Aroma kopi yang baru digiling, suara mesin espresso, hingga lantunan ayat suci Al-Qur'an menjadi bagian dari suasana sehari-hari.

CEO Masjid Sejuta Pemuda, Sanusi (27), mengatakan masjid tersebut berawal dari kegelisahan sekelompok anak muda yang ingin menghadirkan ruang produktif sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.

"Kita menjalani hidup itu hanya ada dua kesempatan, yang pertama kita jadi penikmat, yang keduanya kita jadi penggerak. Kalau jadi penikmat, ya sudah, kita nikmati saja apa adanya sekarang. Tapi, kalau kita jadi penggerak, justru kita yang menciptakan kenikmatan-kenikmatan untuk orang lain," kata Sanusi saat ditemui Kompas.com, Kamis (29/10/2026) siang.

Menurut Sanusi, Masjid Sejuta Pemuda kini dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan wisatawan mancanegara.

"Orang-orang datang ke sini itu dari penjuru Nusantara, bahkan sampai dari luar negeri. Kayak kemarin itu ada dari Jerman datang ke Masjid Sejuta Pemuda,” ucap Sanusi.

Masjid Sejuta Pemuda jadi ruang pemberdayaan generasi muda

Pengelola mengembangkan konsep masjid preneurship, yakni pengelolaan masjid yang tidak hanya berfokus pada kegiatan spiritual, tetapi juga mencakup pendidikan, aktivitas sosial, pengembangan kemampuan, dan kewirausahaan anak muda.

Sanusi mengatakan, jumlah pemuda di Kota dan Kabupaten Sukabumi menjadi salah satu alasan pihaknya ingin menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dan pemberdayaan generasi muda.

"Sukabumi (kota dan Kabupaten) ini jumlah pemudanya lebih dari 1 juta, nah lalu mau ke mana kan para pemuda itu? Makanya, kami ingin masjid menjadi pusat solusi, masjid tempat para pemuda belajar agama, sirah, pendidikan, sosial, konten digital, hingga ekonomi," tutur Sanusi.

Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian pengunjung adalah Coffee & Healthy Bar di bagian depan masjid. Minuman disediakan secara gratis bagi jemaah dan musafir. Barista yang bertugas merupakan marbut masjid yang telah mendapatkan pelatihan menyeduh kopi dengan standar profesional.

Masjid juga menyediakan ruang kerja bersama dengan koneksi internet cepat dan tempat istirahat. Fasilitas tersebut membuat masjid menjadi tempat berkumpul anak muda untuk berdiskusi, bertukar gagasan bisnis, mengikuti kegiatan keagamaan, hingga menghasilkan karya digital.

Meningkatnya jumlah jemaah turut mendorong pengelola memperluas kapasitas bangunan. Sanusi menjelaskan, pada awal 2024 masjid hanya mampu menampung sekitar 50 jemaah. Setelah renovasi, kapasitasnya bertambah menjadi sekitar 400 orang.

Namun, jumlah pengunjung yang terus meningkat membuat kapasitas tersebut kembali tidak mencukupi, bahkan ketika pelaksanaan shalat Jumat.

"Awal tahun 2024 itu, hanya bisa menampung sekitar 50 jemaah, sekarang pengunjung makin banyak, terus kami renovasi dan bisa tampung 400-an jemaah, tapi makin ke sini para jemaah itu nyaris gak ketampung semua, bahkan shalat Jumat saja sampai ke luar-luar dekat aula. Insya Allah kami sekarang lagi renovasi lagi, rencananya nanti bisa menampung sampai 2.000 jemaah," tutur Sanusi.

Pengelolaan keuangan masjid memanfaatkan sistem digital

Selain mengembangkan fasilitas dan kegiatan pemuda, pengelola Masjid Sejuta Pemuda menerapkan sistem pengelolaan keuangan yang mengutamakan transparansi dan akuntabilitas.

Dana infak, sedekah, dan wakaf dikelola melalui sejumlah kanal pembayaran, termasuk Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan transfer perbankan syariah. Pengelola juga menyediakan laporan keuangan bulanan yang dapat diakses masyarakat.

Sanusi mengatakan, masjid tersebut telah memiliki aplikasi yang memuat informasi mengenai program dan aktivitas masjid, termasuk kegiatan makan gratis tiga kali sehari, program kopi, serta fasilitas Al-Qur'an.

"Masyarakat yang mau berinfak itu bisa secara digital, QRIS, atau langsung memasukkan uangnya ke dalam kotak infak. Laporan (keuangan) per bulan kami ada, kalau mau visit ke sini justru alhamdulillah, dan Masjid Sejuta Pemuda sudah punya aplikasi, di situ semuanya ada, dimulai dari (laporan program) makan 3 kali sehari, ada program kopi, di situ ada Al-Qur'annya, dan lainnya." ucap Sanusi.

Ia menambahkan, laporan kegiatan dan keuangan juga dipublikasikan melalui media sosial. Pengelolaan dana turut melalui proses audit dan pengawasan syariah.

"Laporan-laporannya juga di Instagram, (terus) terpublikasi. Kami juga kan tetap ada audit, syariah, gitu, diawasi, kayak gitu karena kan kami (dalam pengelolaan) perlu teliti banget, kehati-hatian karena ini titipan dari jemaah," ujar Sanusi.

Digitalisasi pembayaran masjid juga berdampak pada pedagang di sekitarnya. Salah satunya Arif (43), penjual makanan cirambay yang mulai menerima pembayaran QRIS setelah banyak pembeli menanyakan metode transaksi nontunai.

Arif mengatakan, saat pertama kali berjualan di dekat masjid, ia hanya menerima pembayaran tunai. Namun, banyak pengunjung dari kalangan anak muda yang tidak selalu membawa uang tunai sehingga ia memutuskan menyediakan pembayaran digital.

"Awalnya itu banyak yang nanyain, 'ini bayarnya bisa pakai QRIS gak, saya bilang gak bisa.' Jadi, pembeli itu gak jadi beli dagangan saya, makin ke sini makin banyak yang nanyain pakai QRIS bisa apa enggak, akhirnya saya bikin dan sekarang untuk pembayaran bisa pakai QRIS," tutur Arif.

Setelah menyediakan QRIS, Arif mengaku pendapatannya meningkat, terutama ketika masjid menggelar kegiatan yang menarik banyak pengunjung. Pendapatan hariannya yang biasanya sekitar Rp50.000 dapat mencapai Rp100.000 saat ada agenda di masjid.

"Pendapatan biasanya Rp 50.000, kalau ke Masjid Sejuta Pemuda dan lagi ada agenda itu bisa Rp 100.000. Banyak yang bayar pakai QRIS juga, biasanya itu suka saya belikan pulsa, kuota, atau token listrik. Alhamdulillah ada peningkatan saat ada metode pembayaran pakai QRIS juga," ujar Arif.

Masjid Sejuta Pemuda dukung pariwisata Kota Sukabumi

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Sukabumi, Rahmat Iskandar, menilai Masjid Sejuta Pemuda berpotensi menjadi salah satu daya tarik wisata ramah muslim di daerah tersebut.

Menurut Rahmat, Kota Sukabumi memiliki keterbatasan destinasi wisata alam. Karena itu, masjid yang menggabungkan kegiatan keagamaan, pemberdayaan pemuda, dan kewirausahaan dapat memperkaya pilihan wisata bagi pengunjung.

Pemerintah kota, kata dia, telah berkolaborasi dengan pengelola masjid dalam sejumlah kegiatan pengembangan pemuda dan pariwisata.

"Kami dengan teman-teman di Masjid Sejuta Pemuda itu berdampingan dalam hal pengembangan pemuda dan pengembangan pariwisata, seperti dari segi keagamaan, kemudian juga entrepreneurship. Kami beberapa kali kolaborasi dengan teman-teman di sana untuk membuat pemuda kami berdaya," ungkap Rahmat saat ditemui Kompas.com di kantornya.

Rahmat mengatakan, wisatawan yang berkunjung ke Masjid Sejuta Pemuda juga dapat diarahkan untuk mendatangi destinasi lain di Kota Sukabumi. Langkah ini diharapkan dapat memperluas dampak ekonomi dari kunjungan wisata.

"Soal wisata, sudah tentu kami kolaborasi agar pengunjung-pengunjung di Masjid Sejuta Pemuda juga diarahkan ke spot-spot wisata yang lain," terang Rahmat.

Ia berharap perkembangan masjid tersebut dapat memberikan dampak ekonomi lebih luas bagi Kota Sukabumi. Berdasarkan catatan pemerintah kota, pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata telah mencapai Rp2 miliar hingga Oktober 2026.

"Ini baru sampai bulan Oktober, tahun ini (kami telah mendapatkan) Rp 2 miliar (untuk sektor pariwisata) meski yang terbesar itu dari kuliner. Tapi, kalau secara keuangan yang masuk (Kota Sukabumi) itu perputarannya pasti puluhan miliar," ucap Rahmat.

Jawa Barat kembangkan ekosistem wisata ramah muslim

Pengembangan wisata ramah muslim di Kota Sukabumi sejalan dengan upaya penguatan sektor pariwisata di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Deputi Kepala Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Muslimin Anwar, menyampaikan bahwa jumlah kunjungan wisatawan Nusantara ke Jawa Barat telah menembus 211 juta jiwa. Khusus pada Juni 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat sekitar 18,67 juta kunjungan wisatawan Nusantara.

Muslimin berharap tingginya kunjungan tersebut dapat dimanfaatkan berbagai daerah untuk memperkuat sektor pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menilai Jawa Barat memiliki keunggulan dari sisi akses transportasi yang mendukung mobilitas wisatawan.

"Jawa Barat paling bersyukur di antara kota-kota provinsi di Indonesia karena jalan tol punya banyak, busnya punya, kereta apinya ada dan sebagainya, (ini menjadi) daya tariknya (dan keuntungan)," ungkap Muslimin saat berkunjung ke Kota Sukabumi beberapa waktu lalu.

Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus mendorong pembinaan dan pelatihan untuk memperkuat ekosistem wisata ramah muslim. Upaya tersebut turut mengantarkan Jawa Barat meraih penghargaan Anugerah Adinata Syariah 2026 untuk kategori Pariwisata Ramah Muslim.

Muslimin menyebut Jawa Barat kembali menjadi juara umum dalam ajang tersebut setelah meraih pencapaian serupa pada tahun sebelumnya.

"Kami Bank Indonesia bekerja sama dengan Pemprov Jawa Barat berhasil menjadi juara umum Adinata Syariah tingkat nasional. Tahun lalu juga sama, kemudian back to back tahun ini ya, kami juga menjadi juara umum," ujar Muslimin Anwar.

Selain penghargaan nasional, Jawa Barat juga meraih penghargaan Most Promising Muslim-Friendly Region of The Year dalam ajang Halal In Travel Global Summit 2026 di Singapura.

Muslimin berharap pengembangan wisata ramah muslim dapat semakin menarik kunjungan wisatawan mancanegara. Menurutnya, kedatangan turis asing tidak hanya menguntungkan sektor pariwisata, tetapi juga berpotensi menambah devisa negara.

"Bank Indonesia sangat berbahagia kalau (pengunjung) dari luar negeri itu mendatangkan devisa. Kalau devisa itu semakin meningkat, Bank Indonesia senang. Kalau misalnya nanti rupiahnya tertekan, kami punya cadangan pelurunya itu untuk melakukan intervensi, menstabilkan rupiah,” tutur Muslimin.

LA
Laila AmaliaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update