ESG di Asia Bergeser dari CSR ke Strategi Inti Bisnis, Ini Perkembangannya
NasabahPintar.com - Penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social and governance/ESG) di dunia usaha Asia semakin berkembang. Perusahaan mulai meninggalkan pendekatan yang hanya mengandalkan program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) dan mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi serta kegiatan inti bisnis.
Perubahan tersebut tercermin dalam berbagai inisiatif perusahaan yang dinilai pada ajang Asia ESG Positive Impact Awards (PIA) 2026. Para juri menilai, dampak keberlanjutan akan lebih bermakna ketika kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat menjadi bagian dari operasional perusahaan.
Presiden sekaligus Kepala Ilmuwan Center for Conservation Innovations, Dr Neil Aldrin Mallari, mengatakan sejumlah inisiatif perusahaan telah menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kegiatan bisnis.
"Program terbaik yang saya baca bukan sekadar proyek CSR. Inisiatif-inisiatif tersebut membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari cara sebuah bisnis dijalankan," ujarnya.
Menurut Mallari, keberlanjutan program dalam jangka panjang menjadi pembeda antara CSR biasa dan inisiatif yang terintegrasi dengan perusahaan. Program CSR berpotensi berhenti ketika anggaran berakhir. Sebaliknya, inisiatif yang menjadi bagian dari tata kelola dan budaya perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk terus berjalan.
Dampak ESG perlu terukur dan berkelanjutan
Kepala Unit ESG Malaysia External Trade Development Corporation, Haris Abdul Latiff, menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai, inisiatif perusahaan yang menghasilkan dampak nyata umumnya memanfaatkan kemampuan, teknologi, dan model bisnis perusahaan itu sendiri.
Pendekatan tersebut dinilai dapat membuat manfaat program bertahan lebih lama dan dikembangkan dalam skala lebih luas.
Sejumlah contoh inisiatif yang masuk dalam penilaian Asia ESG PIA 2026 antara lain menghubungkan masyarakat pedesaan dengan pasar ekspor, memperluas akses melalui platform digital, memanfaatkan aset tidak terpakai untuk kegiatan produktif rendah karbon, serta membuka peluang ekonomi bagi kelompok rentan.
Meski demikian, Haris mengingatkan pentingnya pengukuran dampak yang jelas. Perusahaan perlu menggunakan data yang dapat dipertanggungjawabkan, mengukur hasil dalam jangka panjang, serta melibatkan verifikasi independen jika memungkinkan.
"Semakin penting bagi perusahaan untuk menunjukkan bukan hanya apa yang telah dilakukan atau berapa banyak orang yang berpartisipasi, melainkan juga perubahan bermakna yang terjadi dari waktu ke waktu dan apakah manfaat tersebut dapat terus berlanjut setelah periode program berakhir," katanya.
Sementara itu, Ketua Indonesian Society of Sustainability Professionals, Satrio Prakoso, menyoroti perkembangan aspek sosial dalam penerapan ESG di Asia. Menurutnya, semakin banyak inisiatif perusahaan yang mencakup peningkatan kesejahteraan karyawan, keberagaman dan inklusi, serta pengembangan talenta.
Ia juga melihat perusahaan mulai menghubungkan program sosial dengan tujuan pelestarian lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan inisiatif tidak hanya dinilai dari manfaat ekologis, tetapi juga dampaknya terhadap karyawan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
Sebanyak 52 peraih Gold Award melaju ke tingkat regional
Berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari penilaian Asia ESG PIA 2026, ajang penghargaan regional yang memasuki tahun kedua penyelenggaraan.
Sebanyak 52 peraih Gold Award dari tiga ajang ESG nasional di Indonesia, Malaysia, dan Filipina berhasil melaju ke tahap regional.
Mereka merupakan pemenang ESG Positive Impact Awards yang diselenggarakan Star Media Group di Malaysia, ESG Edge Impact Awards dari Inquirer Group of Companies di Filipina, serta Lestari Awards dari Grup Media Kompas Gramedia di Indonesia.
Peserta berasal dari berbagai skala usaha, mulai dari perusahaan besar, usaha kecil dan menengah (UKM), hingga perusahaan kelas menengah.
Seluruh peserta menjalani penilaian oleh delapan juri dari berbagai negara pada September 2026. Pemenang dari 12 kategori dijadwalkan diumumkan dalam malam penganugerahan Asia ESG PIA pada 4 November 2026 di KLGCC Convention Centre, Kuala Lumpur, Malaysia.
Asia ESG PIA merupakan inisiatif Asia ESG Positive Impact Consortium, konsorsium media yang mempertemukan Star Media Group, Inquirer Group of Companies, dan Grup Media Kompas Gramedia.
Asia ESG PIA 2026 hadirkan networking dan lokakarya AI
Selain malam penganugerahan, penyelenggara menyiapkan sesi jejaring (networking) yang mempertemukan peserta penghargaan dengan para pemimpin di bidang keberlanjutan dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Kegiatan ini bertujuan memperluas jejaring regional sekaligus mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan ESG.
Rangkaian acara juga mencakup lokakarya pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung pelaksanaan ESG.
Lokakarya bertajuk "AI for Practical ESG Execution: Turning Data into Actionable Insights" tersebut akan dipandu praktisi AI sekaligus Kepala Ilmuwan Data, Dr Lau Cher Han.
Dalam kegiatan itu, peserta akan mempelajari penggunaan berbagai aplikasi AI untuk mendukung pekerjaan terkait ESG, mulai dari pengumpulan dan pengolahan data, penyusunan draf dokumen, pemeriksaan, hingga pelaporan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Asia ESG PIA 2026 tidak hanya menjadi ajang apresiasi bagi perusahaan, tetapi juga wadah bagi pelaku usaha dan praktisi keberlanjutan untuk memperluas kolaborasi serta mengembangkan praktik ESG di tingkat regional.
