Bunga Kredit Perbankan Tetap 8,9%, Pertumbuhan Kredit Melambat pada September 2026
NasabahPintar.com - Suku bunga kredit perbankan masih relatif stabil pada September 2026. Namun, di tengah stabilnya suku bunga tersebut, pertumbuhan penyaluran kredit justru melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Bank Indonesia (BI) mencatat rata-rata tertimbang suku bunga kredit perbankan sebesar 8,9 persen pada September 2026, relatif tidak berubah dibandingkan Agustus 2026. Sementara itu, penyaluran kredit mencapai Rp9.078,2 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Agustus 2026 sebesar 13,3 persen.
Data Uang Beredar September 2026 yang diterbitkan BI menunjukkan pertumbuhan kredit bervariasi berdasarkan jenis penggunaan dan kelompok debitur. Kredit modal kerja masih mencatat akselerasi, sedangkan pertumbuhan kredit investasi dan kredit konsumsi melambat.
Di sisi lain, hasil Survei Perbankan BI Triwulan III 2026 menunjukkan responden memperkirakan penyaluran kredit baru meningkat pada kuartal IV 2026. Perbankan juga memperkirakan standar pemberian kredit akan lebih longgar, termasuk pada aspek suku bunga.
Suku bunga kredit stabil, bunga simpanan naik
BI mencatat rata-rata tertimbang suku bunga kredit perbankan sebesar 8,9 persen pada September 2026. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.
Berbeda dengan suku bunga kredit, suku bunga simpanan berjangka meningkat pada sejumlah tenor. Suku bunga simpanan berjangka tenor satu bulan naik menjadi 5,3 persen pada September 2026, dari 5,1 persen pada Agustus 2026.
Suku bunga tenor tiga bulan meningkat menjadi 5,9 persen dari 5,8 persen. Sementara itu, suku bunga simpanan berjangka tenor 24 bulan naik menjadi 4,4 persen dari 4,2 persen.
Perkembangan tersebut menunjukkan suku bunga kredit bertahan di tengah kenaikan suku bunga simpanan berjangka pada beberapa tenor.
Pertumbuhan kredit melambat meski nominal meningkat
Penyaluran kredit perbankan mencapai Rp9.078,2 triliun pada September 2026, meningkat dibandingkan posisi Agustus 2026 sebesar Rp9.018,2 triliun.
Meski nominal kredit bertambah secara bulanan, pertumbuhan tahunannya melambat dari 13,3 persen pada Agustus menjadi 12,7 persen pada September 2026.
Berdasarkan kelompok debitur, kredit korporasi masih menjadi penopang utama pertumbuhan. Kredit kepada korporasi mencapai Rp5.337,3 triliun atau tumbuh 20,3 persen secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan 21,6 persen pada Agustus 2026.
Sementara itu, kredit kepada debitur perorangan tercatat sebesar Rp3.676,6 triliun, tumbuh 3,6 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan 3,4 persen pada bulan sebelumnya.
Adapun kredit kepada kelompok debitur lainnya, yang mencakup pemerintah daerah, koperasi, yayasan, dan swasta lainnya, mencapai Rp64,3 triliun. Kelompok ini masih mengalami kontraksi 0,7 persen secara tahunan, tetapi membaik dibandingkan kontraksi 7,6 persen pada Agustus 2026.
Data tersebut memperlihatkan perlambatan pertumbuhan kredit tidak terjadi secara merata pada seluruh kelompok debitur.
Kredit modal kerja tumbuh lebih cepat
Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Modal Kerja (KMK) mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi pada September 2026.
Kredit modal kerja mencapai Rp3.923 triliun, tumbuh 12,7 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan 12,3 persen pada Agustus 2026.
Menurut BI, peningkatan tersebut antara lain didorong penyaluran kredit ke sektor listrik, gas, dan air bersih; pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan; serta jasa-jasa.
Sebaliknya, pertumbuhan Kredit Investasi (KI) melambat meski masih berada di level dua digit. Kredit investasi tercatat sebesar Rp2.738,4 triliun atau tumbuh 21 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 23,4 persen pada Agustus 2026.
Pertumbuhan kredit investasi terutama didorong penyaluran kredit ke sektor konstruksi, listrik, gas, dan air bersih, serta pertambangan dan penggalian.
Sementara itu, Kredit Konsumsi (KK) tumbuh 4,7 persen secara tahunan menjadi Rp2.416,9 triliun. Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 5 persen pada Agustus 2026.
Di dalam kelompok kredit konsumsi, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tumbuh 4,3 persen secara tahunan, sedikit meningkat dari 4,2 persen pada bulan sebelumnya. Kredit multiguna justru melambat menjadi 6,5 persen dari 7,2 persen.
Adapun kredit kendaraan bermotor masih terkontraksi 9,7 persen secara tahunan pada September 2026. Meski demikian, kontraksi tersebut membaik dibandingkan 10,3 persen pada Agustus 2026.
Perbankan perkirakan standar kredit lebih longgar
Hasil Survei Perbankan BI Triwulan III 2026 menunjukkan penyaluran kredit baru diperkirakan meningkat pada kuartal IV 2026.
Perkiraan tersebut tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru sebesar 91,31 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan SBT pada kuartal III 2026 sebesar 90,08 persen dan kuartal IV 2025 sebesar 88,92 persen.
Peningkatan perkiraan penyaluran kredit baru tersebut sejalan dengan proyeksi pelonggaran standar pemberian kredit.
BI mencatat Indeks Lending Standard (ILS) pada kuartal III 2026 sebesar 0,28 dan diperkirakan turun menjadi 0,15 pada kuartal IV 2026. Penurunan indeks tersebut mencerminkan kecenderungan pelonggaran standar penyaluran kredit berdasarkan jawaban responden survei.
Pelonggaran diperkirakan terjadi pada sejumlah aspek, antara lain plafon kredit, jangka waktu kredit, suku bunga kredit, dan persyaratan administrasi.
Meski demikian, hasil survei tersebut merupakan perkiraan responden, bukan konfirmasi bahwa seluruh bank telah atau akan menurunkan suku bunga kredit.
Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Modal Kerja diperkirakan tetap menjadi prioritas utama penyaluran kredit baru, diikuti Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi.
Pada kelompok kredit konsumsi, kredit multiguna diperkirakan menjadi prioritas utama, disusul KPR/KPA dan kredit kendaraan bermotor. Sementara itu, berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit baru diperkirakan paling besar mengarah ke industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta perantara keuangan.
Proyeksi pertumbuhan kredit 2026 mencapai 8,20 persen
Untuk keseluruhan 2026, responden Survei Perbankan BI memperkirakan posisi kredit atau outstanding kredit tetap tumbuh hingga akhir tahun.
Pertumbuhan kredit diproyeksikan mencapai 8,20 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan hasil survei sebelumnya sebesar 7,51 persen. Namun, perkiraan tersebut masih di bawah realisasi pertumbuhan kredit sepanjang 2025 sebesar 9,69 persen.
BI menyebut proyeksi pertumbuhan kredit hingga akhir tahun didukung prospek kondisi ekonomi yang tetap positif serta risiko penyaluran kredit yang terjaga.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan mencapai Rp9.895,8 triliun pada September 2026, tumbuh 8,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Agustus 2026 sebesar 7,7 persen.
Berdasarkan jenis simpanan, giro tumbuh 10,9 persen secara tahunan, tabungan meningkat 9 persen, sedangkan simpanan berjangka tumbuh 5,2 persen.
Dalam survei yang sama, penghimpunan DPK secara kumulatif hingga kuartal IV 2026 diperkirakan tetap tumbuh, dengan SBT sebesar 89,76 persen.
Secara keseluruhan, suku bunga kredit perbankan masih bertahan di level 8,9 persen pada September 2026. Namun, pertumbuhan kredit tahunan melambat menjadi 12,7 persen. Untuk kuartal IV 2026, perbankan memperkirakan penyaluran kredit baru meningkat seiring kecenderungan pelonggaran standar pemberian kredit, termasuk pada aspek suku bunga.
