Selasa, 03 Nov 2026 NewsBankBisnisKeuanganInvestasi
Breaking
Beranda › Bank
Bank

Bank Dunia Ramal Harga Energi Naik 32% pada 2026, Minyak Brent US$91

✍️ Laila Amalia 🕒 30 Oct 2026 👁️ 8x dibaca
Bank Dunia memprediksi harga komoditas naik hingga 2027 akibat konflik Timur Tengah dan El Niño, memicu inflasi dan krisis pangan global.
Bank Dunia memprediksi harga komoditas naik hingga 2027 akibat konflik Timur Tengah dan El Niño, memicu inflasi dan krisis pangan global. Foto: Istimewa

NasabahPintar.com - Bank Dunia memperkirakan harga energi global naik 32% pada 2026, seiring konflik di Timur Tengah yang menguras persediaan minyak dan mengganggu pasokan komoditas. Kenaikan tersebut membalikkan tren penurunan harga energi selama tiga tahun terakhir dan berpotensi membawa harga ke level tertinggi dalam empat tahun.

Dalam laporan terbaru Commodity Market Outlook, Bank Dunia juga memperkirakan kenaikan harga komoditas pangan dan logam. Gangguan pengiriman biji-bijian, ancaman fenomena El Niño terhadap hasil panen, serta tingginya harga bahan bakar dan pupuk dinilai dapat meningkatkan biaya produksi pertanian dan menekan keterjangkauan pangan.

Harga minyak Brent diproyeksikan rata-rata mencapai US$91 per barel pada 2026, naik dari US$69 per barel pada 2025. Pada 2027, harga minyak tersebut diperkirakan turun menjadi US$79 per barel.

Sementara itu, harga komoditas pangan diperkirakan meningkat sekitar 10% pada 2026 dan kembali naik 7% pada 2027. Secara kumulatif, kenaikannya diproyeksikan mencapai 18%.

Secara keseluruhan, harga komoditas diprediksi naik 23% pada 2026 sebelum terkoreksi 7% pada 2027.

Proyeksi tersebut menggunakan asumsi tidak terjadi eskalasi besar dalam konflik yang memengaruhi pasokan komoditas global. Namun, Bank Dunia memperingatkan harga energi dapat melonjak lebih tinggi apabila konflik di Timur Tengah memburuk dan kerusakan infrastruktur minyak Rusia berlanjut.

Kombinasi kenaikan harga energi, serangan terhadap pengiriman biji-bijian di Laut Hitam, serta fenomena El Niño yang sangat kuat juga berpotensi memicu krisis pangan.

Dalam skenario buruk ketika seluruh risiko tersebut terjadi secara bersamaan, harga minyak Brent dapat mencapai rata-rata US$105 per barel pada 2027. Adapun harga komoditas pangan berpotensi 12% lebih tinggi dibandingkan proyeksi dalam skenario dasar, bahkan melampaui tingkat harga pada 2022.

Wakil Kepala Ekonom sekaligus Direktur Kelompok Prospek (Prospects Group) Bank Dunia Ayhan Kose mengatakan, pasar komoditas saat ini menghadapi sejumlah guncangan besar secara bersamaan.

Menurutnya, kenaikan biaya energi dan gangguan perdagangan mendorong harga berbagai komoditas. Kondisi tersebut berisiko memperburuk inflasi, meningkatkan kerawanan pangan, serta menghambat pertumbuhan ekonomi.

"Prioritas utama harus diberikan pada perlindungan kelompok masyarakat termiskin dan dukungan bagi negara-negara berpenghasilan rendah yang saat ini sudah berjuang menghadapi beban utang yang berat," katanya, dalam laporan tersebut, dikutip Jumat (30/10/2026).

Pasokan minyak global diproyeksikan turun 5,2%

Konflik di Timur Tengah juga mendorong perubahan dalam pola produksi dan konsumsi energi global. Bank Dunia memproyeksikan pasokan minyak dunia turun 5,2% pada 2026. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dalam lebih dari empat dekade, di luar periode resesi global pada 2020.

Pada periode yang sama, konsumsi minyak diperkirakan menyusut 2,5%. Kontraksi tersebut menjadi yang terbesar ketiga dalam catatan sejarah setelah 2020 dan 1980.

Tingginya harga di tengah keterbatasan pasokan telah menekan permintaan. Selain itu, elektrifikasi turut mengurangi penggunaan minyak, terutama di China.

Meski demikian, produksi minyak diperkirakan tetap berada di bawah tingkat konsumsi. Kondisi ini mendorong pengurangan cadangan minyak lebih lanjut dan membuat pasar semakin rentan terhadap gangguan pasokan berikutnya.

Harga logam dan pupuk ikut meningkat

Selain energi dan pangan, kenaikan harga juga diperkirakan terjadi pada sejumlah komoditas industri. Harga pupuk diproyeksikan naik 14% pada 2026 setelah sempat melonjak pada awal tahun, kemudian melandai dan kembali ke tingkat 2025 pada 2027.

Harga logam diperkirakan mencatat rekor tertinggi baru pada 2026 dengan kenaikan sebesar 25%. Kenaikan tersebut didorong oleh harga aluminium, tembaga, dan timah yang diproyeksikan menyentuh rekor tertinggi.

Bank Dunia mengaitkan tren tersebut dengan kuatnya permintaan dari investasi energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pusat data. Gangguan pasokan yang terjadi sepanjang tahun ini turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga. Pada 2027, harga logam diperkirakan turun 3%.

Adapun harga logam mulia diprediksi meningkat 40% pada 2026. Kenaikan ini didorong tingginya permintaan terhadap aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan.

Harga logam mulia diperkirakan sedikit melandai pada 2027, tetapi tetap berada di atas tiga kali lipat rata-rata harga pada periode 2015–2019.

Laporan Bank Dunia juga menemukan bahwa keterkaitan volatilitas harga antarkomoditas semakin terlihat ketika terjadi tekanan ekonomi atau pasar, termasuk sejak konflik terbaru di Timur Tengah.

Secara rata-rata, logam industri menjadi kelompok komoditas yang paling banyak menularkan volatilitas harga ke kelompok komoditas lainnya. Meski demikian, pengaruh harga minyak terhadap volatilitas komoditas lain meningkat signifikan setelah konflik di Timur Tengah pecah.

LA
Laila AmaliaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update