Sabtu, 24 Okt 2026 NewsBankBisnisKeuanganInvestasi
Breaking
Beranda › Keuangan
Keuangan

Buyback hingga Kebijakan BEI Dorong Rebound IHSG, Investor Tunggu Implementasi Reformasi

✍️ Laila Amalia 🕒 20 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). IHSG pada pembukaan perdagangan sesi I Jumat (16/10) menyentuh level 5.393,92, turun 469,86 poin atau 8,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di level 5.863,78 dan langsung mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). IHSG pada pembukaan perdagangan sesi I Jumat (16/10) menyentuh level 5.393,92, turun 469,86 poin atau 8,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di level 5.863,78 dan langsung mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.

NasabahPintar.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 208,02 poin atau 4,16 persen ke level 5.204,63 pada penutupan perdagangan sesi I, Selasa (20/10/2026). Penguatan tersebut didorong sejumlah sentimen, mulai dari rencana pembelian kembali saham (buyback) oleh emiten hingga inisiatif reformasi pasar modal untuk merespons evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto mengatakan, sejumlah kebijakan dan langkah korporasi tersebut berpotensi menopang pemulihan pasar saham di tengah volatilitas. Meski demikian, investor masih menantikan implementasi reformasi yang konsisten.

“Resistance 5.318-5.400, area ini menjadi target rebound sekaligus pengujian awal untuk menilai kekuatan pemulihan," ujar Helmy dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Helmy mengidentifikasi empat sentimen utama yang mendorong penguatan IHSG. Pertama, sejumlah emiten telah menyiapkan dana untuk melakukan buyback saham. Langkah tersebut berpotensi menopang permintaan saham di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

Kedua, Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana memperluas keterbukaan informasi mengenai afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen. Selain itu, saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) direncanakan dikeluarkan dari perhitungan IHSG.

“Implementasi kebijakan ini menjadi perhatian untuk memulihkan kepercayaan investor,” ujar Helmy.

Ketiga, inisiatif Danantara untuk menambah kepemilikan pada saham-saham badan usaha milik negara (BUMN) turut mendukung optimisme investor, terutama terhadap saham perbankan milik negara. Saham-saham tersebut juga menjadi salah satu penggerak penguatan IHSG.

Keempat, komitmen reformasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah, termasuk penegakan aturan terhadap dugaan coordinated trading serta peningkatan transparansi, menjadi katalis positif bagi pasar.

“Namun, pasar masih menunggu bukti implementasi yang konsisten di tengah konsultasi reklasifikasi Indonesia oleh MSCI,” ujar Helmy.

Pada perdagangan sesi I, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut menguat 31,27 poin atau 6,40 persen ke level 519,73.

Aktivitas transaksi di pasar saham tercatat mencapai 1,63 juta kali dengan volume perdagangan sebanyak 39,30 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp17,13 triliun.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 654 saham menguat, 137 saham melemah, dan 172 saham bergerak stagnan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor mengalami penguatan. Sektor transportasi dan logistik memimpin kenaikan sebesar 6,49 persen, diikuti sektor barang baku yang naik 4,63 persen dan sektor properti sebesar 4,55 persen.

LA
Laila AmaliaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update