Senin, 19 Okt 2026 NewsBankBisnisKeuanganInvestasi
Breaking
Beranda › Keuangan
Keuangan

Apa Itu Downgrade Gaya Hidup? Ini Dampak dan Tips Mengatur Gaji dari Perencana Keuangan

✍️ Laila Amalia 🕒 17 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Ilustrasi mengatur keuangan bersama pasangan.
Ilustrasi mengatur keuangan bersama pasangan. Foto: FREEPIK/TIRACHARDZ

NasabahPintar.com - Kenaikan harga kebutuhan hidup mendorong masyarakat untuk menata ulang pengeluaran, mulai dari mengurangi kebiasaan nongkrong di kafe, menghentikan sejumlah langganan hiburan, hingga beralih dari barang bermerek ke produk yang lebih terjangkau. Langkah menyederhanakan pola konsumsi ini dikenal sebagai downgrade gaya hidup.

Financial Planner dari Finante, Maryadi Santana, menilai penyesuaian gaya hidup merupakan hal yang wajar, terutama bagi masyarakat yang mulai merasakan tekanan keuangan akibat meningkatnya biaya hidup. Menurutnya, perubahan tersebut dapat membantu seseorang menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.

"Pada dasarnya manusia punya daya bertahan hidup dalam situasi seperti ini, dengan penyesuaian gaya hidup ini salah satu cara manusia menyelaraskan pendapatan dengan pengeluaran yang semakin mahal," ucap dia ketika dihubungi Kompas.com, Sabtu (17/10/2026).

Downgrade Gaya Hidup Tidak Selalu Menandakan Kesulitan Finansial

Meningkatnya tren downgrade gaya hidup tidak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi keuangan seseorang sedang memburuk. Maryadi menjelaskan, fenomena ini dapat dipahami melalui perbandingan antara pendapatan yang relatif tetap dan harga kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Ketika biaya hidup bertambah, masyarakat perlu menyesuaikan pengeluaran agar tetap berada dalam batas kemampuan finansial. Dengan demikian, kebutuhan sehari-hari dan kewajiban keuangan tetap dapat dipenuhi tanpa mengandalkan penghasilan yang lebih besar.

Di sisi lain, sebagian orang yang kondisi keuangannya masih cukup baik juga memilih menyederhanakan gaya hidup. Keputusan tersebut umumnya didasarkan pada pemahaman mengenai prioritas dan pertimbangan terhadap manfaat setiap pengeluaran.

Penyesuaian pun tidak harus dilakukan secara menyeluruh. Seseorang dapat memilih aspek tertentu yang dinilai kurang penting untuk dikurangi, sementara pengeluaran lain yang lebih mendesak tetap dipertahankan.

Maryadi mencontohkan bahwa keputusan mengurangi pengeluaran perlu mempertimbangkan risiko biaya tambahan pada masa mendatang.

"Kalau ini masalah prioritas, contoh mengubah skincare akan berisiko, akan pengeluaran lebih besar jika ternyata tidak cocok dan harus ke dokter. Mungkin dengan mengubah kendaraan ada pengeluaran yang cukup bisa dipangkas tanpa nantinya bisa mengeluarkan biaya lebih besar," jelas Maryadi.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa penghematan tidak selalu berarti memilih alternatif paling murah. Masyarakat perlu mempertimbangkan manfaat, kebutuhan, serta potensi pengeluaran lanjutan sebelum memutuskan pos mana yang akan dikurangi.

Dampak Downgrade Gaya Hidup terhadap Kualitas Hidup

Meski dapat membantu mengendalikan keuangan, penyederhanaan gaya hidup juga memiliki konsekuensi. Perubahan kebiasaan konsumsi berpotensi mengurangi kenyamanan dan kualitas hidup, terutama bagi orang yang merasa harus melepaskan hal-hal yang sebelumnya menjadi bagian penting dari kesehariannya.

Maryadi mengingatkan bahwa penurunan standar hidup juga dapat memicu tekanan mental bagi sebagian orang apabila dilakukan secara berlebihan.

"Kualitas hidup akan semakin turun, bisa menyebabkan tekanan mental jika harus mengubah gaya hidup bagi beberapa orang," ucap Maryadi.

Dampaknya tidak hanya dirasakan individu. Jika dilakukan secara luas, pengurangan konsumsi masyarakat juga berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi. Ketika belanja konsumen menurun, pendapatan pelaku usaha yang bergantung pada pengeluaran tersebut dapat ikut terdampak.

Karena itu, Maryadi menyarankan masyarakat tidak melakukan downgrade gaya hidup secara menyeluruh. Menurutnya, langkah yang lebih tepat adalah mengevaluasi kebutuhan dan menentukan pengeluaran berdasarkan tingkat kepentingannya.

Cara Mengatur Gaji agar Keuangan Tetap Sehat

Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi kenaikan biaya hidup adalah menyusun anggaran bulanan berdasarkan penghasilan. Anggaran ini membantu masyarakat memahami ke mana uang digunakan sekaligus mengidentifikasi pengeluaran yang masih bisa dikurangi.

Penyusunan anggaran perlu mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti pendapatan, kebutuhan sehari-hari, kewajiban pembayaran, dan prioritas pribadi. Dengan mengetahui komposisi pengeluaran, seseorang dapat menentukan penyesuaian yang paling sesuai tanpa harus mengorbankan seluruh aspek kenyamanan hidup.

Maryadi menekankan bahwa tidak ada satu standar anggaran yang cocok untuk semua orang. Kondisi keuangan dan kebutuhan setiap individu berbeda sehingga perencanaan pengeluaran harus disesuaikan dengan situasi masing-masing.

"Ideal masing-masing orang akan berbeda disesuaikan dengan penghasilan, kebutuhan hidup, kewajiban, dan prioritasnya. Untuk mencari ideal bagi masing-masing orang, harus buat terlebih dahulu anggaran pengeluaran selama ini, lalu perbaiki anggaran tersebut agar menjadi ideal," pungkas dia.

Dengan evaluasi anggaran secara berkala, masyarakat dapat menentukan bagian pengeluaran yang perlu ditekan dan bagian yang tetap harus dipertahankan. Tujuannya bukan sekadar menjalani gaya hidup yang lebih murah, melainkan menjaga kestabilan keuangan sekaligus mempertahankan kualitas hidup di tengah kenaikan harga kebutuhan.

LA
Laila AmaliaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update